Dea Valencia Budiarto

Dea Valencia Budiarto

Jadi fresh graduate nggak melulu cuma bisa jadi anak magang atau pengangguran. Ada lho, seorang fresh graduate yang punya pendapatan ratusan juta rupiah dari bisnis yang digelutinya. Sebutlah Dea Valencia Budiarto, perempuan muda yang terbilang sukses menggeluti bisnis fashion segera setelah ia meninggalkan bangku kuliah.

Dea Valencia Budiarto sudah mengenyam bangku kuliah di usia masih belia, 15 tahun saja. Ketika lulus kuliah di usia 18 tahun, dia memutuskan untuk kembali ke Semarang dan fokus untuk membuka usaha. Labelnya yang bernama Batik Kultur dirintis karena sejak awal Dea memang suka batik. Menurut Dea, ini merupakan salah satu cara baginya untuk menghargai budaya Indonesia.

Lewat Batik Kultur, Dea mendorong generasi muda untuk mengenal dan mengapresiasi batik serta kain tradisional Indonesia lainnya sebagai peninggalan budaya bangsa. Dengan mengenakan kain-kain tradisional asli Indonesia, Dea berharap masyarakat Indonesia sendiri menyadari pentingnya pelestarian kain-kain tradisional tersebut dan merasa bangga mengenakannya.

Desain Batik Kultur terbilang unik, modern, anak muda banget. Kalo melihat pencapaian yang diraih sekarang, sulit dipercaya kalau Batik Kultur dipegang sama sosok perempuan muda 20 tahun, sarjana komputer pula.

Batik Kultur bermula dari keinginan Dea memiliki baju batik cantik seperti yang ia mau. Meskipun Dea nggak bisa beli baju batik yang dia pengen, ia nggak lantas hilang akal. Berbekal kreativitas, Dea pun menggeledah batik lawas punya orang tuanya, digunting-gunting terus dijahit dengan model yang dia pengen. Katanya sih sayang kalau dibuang, apalagi kalo sampai rusak gara-gara cuma disimpan di dalem lemari. Kalo bisa digunting-gunting dan dipadukan dengan bahan lain terus jadi bagus kenapa enggak? Dari situlah kemudian batik lawas berubah jadi modern, yang kemudian diminati banyak orang.

Sebagai jebolan Program Studi Sistem Informasi Universitas Multimedia Nusantara, Serpong, Dea paham bener gimana besarnya kekuatan internet sebagai media pemasaran produk. Oleh karena itu, 95% pemasaran dan penjualan Batik Kultur memanfaatkan online! Mulai dari Facebook dan Instagram yang dijadikan tempat men-display katalog sampai menjadi media komunikasi dengan pelanggannya. Nggak tanggung-tanggung memanfaatkan online, belakangan ini Dea pun jga sudah meluncurkan website dengan alamat batikkultur.com.

Karakteristik desain Batik Kultur yang unik dan orisinal ini kemudian juga menarik lebih dari 3000 customer yang tersebar di Indonesia, juga negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Hongkong, Belanda, Singapura, dan Norwegia. Melalui online pula, Batik Kultur nyebar dari mulut ke mulut. Selain keunikan desain, Dea juga memperhatikan strategi pasar untuk menentukan harga sesuai dengan konsumen yang ia tuju.

Perempuan kelahiran 14 Februari 1994 ini kini menjadi young technopreneurship di kalangan teman-teman seusianya. Di usia yang terbilang sangat muda, Dea bisa meraih omzet ratusan juta dalam satu bulan.

Pencapaian Dea nggak diraih dalam kedipan mata. Dea mulai semuanya dari nol. Dari karyawannya cuman beberapa terus nambah tiap bulan sampai sekarang ada 40 orang. Semua berkat ketekunan dalam menggeluti usahanya.

Dari hobi jadi ladang berbagi. Lingkungan sekitar nggak pernah luput dari perhatian Dea. Di Batik Kultur, ada beberapa karyawannya yang mengalami cacat fisik tau penyandang difabel. Dea punya tujuan, mendukung mereka untuk hidup lebih mandiri, juga bisa punya karya dan bermanfaat buat banyak orang. Menurut Dea, setiap orang layak mendapat kesempatan yang sama, termasuk mereka.

"Saya juga mempekerjakan karyawan yang misal nggak ada kaki tapi tangannya masih bisa kerja. Penjahitnya ada enam yang tuna rungu dan tuna wicara. Pertimbangannya? Giving back to society. Saya ingin memberikan mereka kesempatan untuk memberikan kontribusinya di balik perbedaan mereka. Dan ternyata banyak pelajaran yang bisa diambil seperti ketekunan dan semangat untuk belajar,” kata Dea.

“If you never try you’ll never learn. There is no elevator to success, you have to take the stairs.” Berangkat dari situlah Dea memberanikan diri untuk lebih banyak belajar dan mencoba hal-hal baru. Semangatnya adalah ketekunan dan pantang menyerah, karena Dea pun menyadari kalo pencapaiannya saat ini bukan sesuatu yang didapatkan secara instan dan mudah.

By : ziliun.com

See Also

Menggunakan Dress Batik Sesuai Tubuh
Menggunakan Dress Batik Sesuai Tubuh
Macam-macam Bahan Alami Pewarna Batik
Macam-macam Bahan Alami Pewarna Batik
Batik Papua, Kain Tradisional Khas Papua
Batik Papua, Kain Tradisional Khas Papua
Mengenal Jenis-jenis Kain Batik
Mengenal Jenis-jenis Kain Batik